ZIARAH JEPARA, KUDUS, DEMAK
KAMIS, 29 JANUARI 2026 MULAI 06.00 WIB
Makam Sapuro adalah makam Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Athas. Beliau dilahirkan di kota Hajren Hadramaut Yaman pada tahun 1255 H atau tahun 1836 M dan meninggal dunia pada malam ahad 24 rajab 1347 H atau tahun 1928 M pada usia 92 tahun.
Silsilah :
Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib bin Ali bin Hasan bin Ali bin Hasan bin Abdullah bin Husein bin Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman As-Saqqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqoddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khala’Qosam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajjir bin Isa Annaqib bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Asshadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zain Al-Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Tholib + Assayidah Fatimah Azzahra binti Rasulullah SAW.
Pangeran Toyib Tjie Bin Thang Win-tang adalah nama asli dari Sulta Hadlirin. Sultan Hadlirin sebenarnya lahir di Aceh namun meninggal di jepara akibat dibunuh oleh pasukan Arya Penangsang.
Sultan Hadlirin merupakan sultan pertama di Jepara, ia telah berhasil menyebarkan agama Islam di Jepara. Makam Sultan Hadlirin terletak di Jepara, tepatnya pada desa Mantingan, kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Makam Sultan Hadlirin sering dikunjungi warga dan menjadi tujuan wisata religi, di tempat ini juga terdapat makam-makam waliullah lain. Terhitung jumlah makam lain kurang lebih ada 30.
Menurut cerita legenda yang beredar di masyarakat, Mbah Jogo Laut merupakan seorang tokih ulama yang memiliki nama asli Syekh Mukhtarom.
Mbah Jogo Laut dikenal sebagai penyebar gama Islam di daerah Jepara dan sekitarnya.
Sunan Kudus Nama lahirnya adalah Sayyid Ja'far Shodiq bin Syekh Sabil Sunan Ngudung Demak; Merupakan ulama sekaligus panglima perang Kesultanan Demak yang termasuk dalam anggota dewan Wali Songo.
Berdasarkan Serat Panengen diketahui bahwa Sunan Kudus adalah Putra dari Nyai Ageng Manyuran yang menikah dengan Sunan Ngudung bin Khalifah Husain. Sedangkan, dalam Serat Walisana diketahui bahwa nama asli Sunan Ngudung bin Khalifah Husain adalah Syarif Sabil.
Silsilah :
1. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
2. Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra
3. Sayyidina Hasan Al-Mujtaba
4. Syarif Hasan Al-Mutsanna
5. Syarif Abdullah Al-Mahdi
6. Syarif Musa Al-Jun
7. Syarif Abdullah Ar-Ridha
8. Syarif Musa Ats-Tsani
9. Syarif Muhammad Ats-Tsa'ir
10. Syarif Abdullah Al-Akbar
11. Syarif Ali As-Salami
12. Syarif Yahya
13. Syarif Isa
14. Qutbul Jalil Sayyidi Syarif Husein Qadib Al-Ban (Leluhur Sadah Asyraf Al-Qudsi, Lahir di Palestina)
15. Syarif Ali Al-Mosuli
16. Syarif Muhammad
17. Syarif Abdullah
18. Syarif Syarafuddin
19. Syarif Syahabuddin
20. Syarif Muhammad
21. Syarif Ahmad
22. Syarif Tajuddin
23. Syarif Ya'qub
24. Syarif Husein (Panglima Perang Khalifah Mamluk, Al-Quds Al-Aqsa Baitul Maqdis Yerussalem Palestina)
25. Raden Syarif Utsman (Panglima Perang Kesultanan Demak)
26. Raden Sayyidi Syarif Ja'far Ash-Shadiq Al-Qudsi Al-Hasani
Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said/Syahid adalah seorang ulama terkenal dan penasehat pemerintahan di era Majapahit pada masa prabu Kertabhumi, Demak, Pajang. Ia juga termasuk dalam anggota Walisongo.
Selain sebagai ulama ia juga menjadi seniman, dan arsitek yang ulung. Salah satu media dakwahnya yang dikenal luas hingga sekarang melalui pentas adalah wayang kulit.
Kesenian wayang kulit yang awalnya berisi kisah-kisah Hindu, diganti oleh Sunan Kalijaga menjadi kisah-kisah yang berisi ajaran Islam. Contohnya yaitu Wayang sadat, dan Jamus Kalimasada, sebagaimana yang dijelaskan oleh Siti Wahidoh dalam Buku Intisari Sejarah Kebudayaan Islam.
Raden Patah (lahir: Palembang, 1455; wafat: Demak, 1518) adalah Pendiri Kesultanan Demak yang memerintah dari tahun 1475 - 1518.[1]
Dia merupakan Putra dari Sri Maharaja Prabu Singhanegara Wijayakusuma dengan seorang putri asal Tiongkok bernama Dewi Kian.
Kiprahnya semakin cemerlang setelah menjadi Murid sekaligus menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi Adipati Demak hingga masuk ke Jajaran anggota dewan Walisongo.
Setelah ayahnya dikudeta oleh Dyah Ranawijaya dari takhta Majapahit, ia pun melepaskan Demak menjadi negara yang merdeka.